Postingan

30 hari; Puasa dalam balutan Puisi

Menjadi manusia memanglah tak dapat melepas segala kerancuan dan topeng-topengnya. Selama satu bulan ini tak lain dan tak bukan hanya untaian kata-kata yang tertampung. Banyaknya kata-kata ini tak mampu jua menampung rindu yang berkelimdan kesana-sini serta kenangan jaman baheula yang menggores duka. Silahkan dinikmati: (1) Malam sungguh memberi deru Melalui angin dan desau sunyi Ia siarkan rindu yang hidup dari sebuah obituari Rindu yang tercekik oleh seorang manusia penuh durjana Ya, tepat beberapa tahun lalu Kita yang masih berumur jagung Menempati hari yang penuh huru dan hara Hanya dengan berpandangan sambil berharap nama kita tertulis pada surat undangan Tak habis-habisnya dirimu membius hati dengan senyum khas pribumi Tak habis-habisnya pula diriku mengharap rasa yang terbalas meski hanya kusanggupi melalui bait puisi Anganku terlalu jauh berkelindan dengan uban pertama di rambutmu esok yang kusaksikan dengan mata indraku Mimpiku terlalu lama merdeka dengan...

Surat Untuk lebaran Besok

Lebaran memanglah hari yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam. Setelah bersama-sama berperang dengan menyembunyikan nafsu, bergulat dengan lapar dan dahaga, serta berjarak dengan keduniawian melalui pembacaan puisi terindah dari Tuhan yakni Al-Qur'anul Karim. Hari yang ditunggu-tunggu itu pun telah nampak di penghujung bulan Ramadhan ini. Genderang akbar akan bersahutan dengan gema takbir yang menggetarkan semesta seisinya akan segera di dengungkan bersamaan. Rasa merdeka akan segera kita raih. Tapi, adakah kita telah merdeka seutuhnya? Aku rasa tidak. Tahun ini memang fantastis, penuh misteri, dan sungguh memberi makna lain dari pada tahun-tahun sebelumnya. Adanya pandemi ini membuat sedikit orang merasa bosan, sambat , risau karena tak bisa kemana-mana untuk sekedar ngopi, bersilaturahmi pada keluarga dan kerabat, tak ada buka bersama, tak ada halal bi halal, bahkan di beberapa daerah termasuk di tempatku kini tak ada masjid yang dibuka untuk tarawih dan sholat Ied. Betap...

5 Mei 2020: Ambyar yang paripurna dan pemberi warna

Gambar
Sumber gambar: minews.id Bertepatan 5 Mei 2020 Mentari yang belum genap diatas kita, sang legenda maestro campursari, the father of broken heart, atau yang dikenal Lord Didi Kempot telah menuju pada keabadian sejatinya. Deru haru menggulung hati para sobat ambyar se-antero Nusantara bahkan dunia. Beliau pulang menuju kehadirat Illahi dengan segala kenang dalam hati. Banyak sekali sobat ambyar yang merasa ambyar dengan purna. Ya, tepat 5 Mei 2020. Berita itu telah menyelinap ke dalam relung hati yang tak terukur dalamnya. Berita itu pula yang menusuk hati seketika kita sedang dalam keterpurukan; Keterpurukan oleh sakit hati itu sendiri.  Media massa dengan massif memberitakan dan para tokoh tak lepas dari ucapan. Betapa besarnya peran Sang Legend terhadap dunia seni musik dan relung hati masyarakat Indonesia. Didi kempot atau yang sering kita sebut Pak dhe; Lord; The father of broken heart sungguh banyak memberi kontribusi pada jiwa-jiwa rapuh terkhusus yang dirasakan...

Cerpen: Tamu itu Seorang Penjahit

“Peringatan! bahwa kedaulatan kopi dan rokok anda kali ini sudah mencapai batas maksimal. Silahkan berhenti dari ngopi, puisi dan menanti! Saatnya berpuasa, beribadah, dan menghindari maksiat dengan perlawanan di atas kasur!“             Begitulah kiranya masa-masa akhir setelah sahur dan alarm isyak telah terdengar dari toa musholla yang tak jauh dari tempatku. Sejak beberapa waktu kemarin, aku sungguh merasa tak nyaman dengan kehadiran tamu yang sungguh menjengkelkan. Tak ada yang mempersilahkan, tak ada pula yang mengundang. Ia tiba seenak hati dengan penuh kecemasan. Kemana pun aku berjalan ia selalu turut serta menghampiri. Tak pernah izin, tak pernah pamit. “Ah sialan…” gumamku dalam hati.             Beberapa pekan lalu ada pula tamu serupa tapi kehadirannya membuatku merasa nyaman dan tenang. Bila kutaksir, tamu waktu itu mengandung unsur keindahan senja kala i...

Cerpen: “ Pria Murung yang Tertimpa Kamus Kecil dengan Kenangan di Pulau Buru “

“Semua harap dirumah saja! Barangsiapa yang tetap nekat keluar, maka akan ditindaklanjuti oleh yang berwajib!” Mobil pick up dengan tulisan P.O.L.P.P sedang berkeliling kampung ditengah teriknya mentari. Corong toa berbunyi keras, tegas, lugas mengalahkan berita kematian yang diumumkan oleh takmir masjid. Ya, mulai hari ini positif sudah dia seorang pemuda lepas tak dapat lagi keluar untuk sekedar bersapa di warung kopi, berangkat ke kampus, mengelilingi kota mencari doi , atau beraktivitas diluar zona nyaman; kuliah. Kawan seatapnya yang semula ramai kini telah pulang kampung sejak beberapa hari yang lalu. Disana hanya tinggal bertiga yang sedang asyik-masyuk dengan sedikit kusuk-kusuk karena tak mampu menikmati udara luar. Kedua temannya juga cenderung pasif. Tak pernah mau mengajak bercengkrama jika tak dimulai oleh dia untuk bicara.   Tapi mereka bertiga terlihat harmonis dan romantis. Bahkan seperti pasangan kekasih yang sedang kasmaran tanpa kenal lika-liku yang tra...

“ Puasa Kami Tak Seindah Puisi Tuhan “

Bismillahirrohmanirrahim… Dengan menyebut nama Tuhan yang maha asah-asih-dan asuh Kami berpuisi untuk menghadapi puasa dengan harap segala berkah dibalik segala rintih dan keluh ** Tahun ini, adakah yang lebih berbahagia daripada semesta? Adakah yang lebih sunyi dari tempat peribadatan yang selalu suci? Adakah pula jiwa-jiwa keruh yang telah merangkak suci di pertapaan isolasi? ** Di jalanan masih nampak pak tua yang sedang melawan kubam lumpur bernama kehidupan Di perempatan masih nampak sinar redup bocah yang kehilangan arah mencari sejumput rupiah Di dapur belakang rumah masih banyak ibu yang rumpang tandas mengharap sekilo beras ** Di rumah-rumah bertingkat para konglomerat berusaha membagi harta agar manusia tak ada yang sekarat Di lembaga organisasi para aktivis mengocek dompetnya yang tipis agar tak ada kata sama miris Dan di hati beku masih ada sekelindan tamak yang enggan menyibak peduli terhadap hari yang penuh huru-hara ** Wahai Tuhan yang m...

"Sunyi yang Abadi"

Hari-hari yang kita lewati tampak temaram Entah itu siang atau malam. Sebagaimana biasanya, Kita bekerja, sekolah maupun kuliah dalam satu ruang sunyi Semua kemalasan kini sebuah pekerjaan yang beralasan Sebab, inilah alasan kita untuk mengulit kenangan Betapa beruntungnya kita semua yang pernah mengukir kenangan Melakukan kearifan dalam satu timbunan kemaslahatan Merayakan kesunyian dengan para perindu keberkahan, dan Menyelipkan cinta dengan para pembawa kebijaksanaan Ah.. semua itu hanya bayangan yang di putar oleh kaset bernama kenangan Celoteh dari segala kesunyian: Merindu tanah Njoso adalah keabadian Yogyakarta, 7 April 2020