Cerpen: “ Pria Murung yang Tertimpa Kamus Kecil dengan Kenangan di Pulau Buru “

“Semua harap dirumah saja! Barangsiapa yang tetap nekat keluar, maka akan ditindaklanjuti oleh yang berwajib!”

Mobil pick up dengan tulisan P.O.L.P.P sedang berkeliling kampung ditengah teriknya mentari. Corong toa berbunyi keras, tegas, lugas mengalahkan berita kematian yang diumumkan oleh takmir masjid. Ya, mulai hari ini positif sudah dia seorang pemuda lepas tak dapat lagi keluar untuk sekedar bersapa di warung kopi, berangkat ke kampus, mengelilingi kota mencari doi, atau beraktivitas diluar zona nyaman; kuliah.

Kawan seatapnya yang semula ramai kini telah pulang kampung sejak beberapa hari yang lalu. Disana hanya tinggal bertiga yang sedang asyik-masyuk dengan sedikit kusuk-kusuk karena tak mampu menikmati udara luar. Kedua temannya juga cenderung pasif. Tak pernah mau mengajak bercengkrama jika tak dimulai oleh dia untuk bicara.  Tapi mereka bertiga terlihat harmonis dan romantis. Bahkan seperti pasangan kekasih yang sedang kasmaran tanpa kenal lika-liku yang tragis.

***
            Siang itu, sebut saja Jack. Seorang pemuda lepas yang tak mengenal hujan dan panas. Seorang pengopi yang setia terhadap ampas kopi, seorang setia kawan. Bahkan jika sudah nyaman dengan kawannya ia sampai lupa apa itu sarapan. Sobat karibnya memang tak banyak. Hanya ada dua orang yang selalu setia menemaninya kemanapun ia berada. Mulai dari ke kamar mandi; warung kopi; masjid; jalan raya; bahkan ke ruang mimpi sekali pun. Jack hendak keluar membeli kebutuhan logistiknya untuk kebutuhan masa karantina. Sebab, logika tanpa logistik ibarat tahlil tanpa laa ilahaillallah.

            Seperti biasa, sepeda motor butut tahun 70-an masih saja setia ia setubuhi dan berselancar bebas diatas aspal yang mulus nan seksi. Ketika di perempatan, terlihat olehnya seorang bocah dekil ditenteng aparat dengan raut mukanya yang naik pitam. Belum cukup itu, bocah dekil itu ternyata membawa adiknya yang kisaran usianya masih seumur jagung. Adik dari bocah kecil itu tak ikut dibawa aparat.

            “Mas.. mau kemana? “

Teriakan sang adik dengan bendungan yang hampir jebol dari matanya. Sambil terus membawa bungkus permen berisi uang recehan hasil kerjanya menjaja suara pada pengemudi di persimpangan, ia tak habis-habisnya meratapi kepergian sang kakak yang dibawa aparat entah kemana tanpa memberi pesan apapun.

            Lampu perempatan sudah menunjukkan warna hijau tanpa Jack sadari. Diraihnya gas sepeda motor itu lalu melaju dengan kecamuk atas realita yang memprihatinkan tersebut. Sepanjang perjalanan menuju tempatnya belanja hingga ia kembali ke kontrakannya, masih saja wajah rancu dua bocah tadi menggejolak di ruang kepala bahkan menusuk ke ruang paling suci yaitu hati.

“Ah.. persetan dengan mereka! Untuk apa masih menghadirkan tentang orang yang tak ku kenal seluk beluk dan duduk perkaranya”

Dengan sedikit muka geram, ia ke dapurnya yang terkesan burik dan apa adanya sesuai keadaan mahasiswa rantau untuk menyiapkan makanan berbuka puasanya.

***
            Seperti biasa, kehidupan Jack dan kedua temannya memang bisa dikatakan unik. Pasalnya mereka jarang berkomunikasi, jarang berinteraksi, bahkan terkadang saling acuh tak acuh. Kedua temannya memang memiliki kamar tersendiri yang bersekat kayu dengan tempat tidur Jack biasanya. Malam itu, selepas berbuka puasa Jack melakukan ritual seperti layaknya umat Islam lainnya.

            Berhubung situasi yang berbenturan dengan pandemi ini, Jack keluar berkeliling untuk mencari masjid atau musholla yang masih melaksanakan teraweh, sebab ia kurang yakin jika teraweh sendiri karena hafalan Juz ‘Amma waktu kelas 6 SD dulu mulai pudar dari kepalanya. Hampir setengah jam sudah ia berkeliling dengan menaiki sepeda motornya bukan jamaah yang di dapat, justru sebuah problem datang lagi dengan seketika menghalau pikirannya yang kalut.

            Semua masjid ataupun Musholla tak ada yang mengadakan jamaah teraweh, tetapi kedai kopi masih buka dan ramai jamaah ghibah disana.
“Apa-apaan sih ini. Jamaah dilarang tapi ngopi bareng masih bisa ” Serunya sambil berhenti di samping sebuah kedai kopi.

“ Ada apa mas? “ Sahut seorang bocah laki-laki yang kisaran usianya masih duduk di bangku SMP yang membawa seorang anak perempuan yang kemungkinan besar adiknya.
Sontak Jack pun terkejut karena dua orang yang menegurnya dari belakang itu adalah orang yang tadi siang ditarik aparat.

“Lo kalian kan…. Ahhh yang siang tadi di perempatan Baciro, dan kamu yang tadi dibawa sama aparat kan?” Tanya Jack pada kedua anak itu sambil keheranan. “Ya sudah kita ngopi dulu aja yuk”

“Tapi mas…” Dengan menghela nafas, sang kakak tersebut melanjutkan “ Kami belum ada uang, buat makan aja belum bisa apalagi buat ngopi” Raut muka mereka mengharukan.
Dengan sedikit ragu, Jack mengajak mereka dengan ketulusan meski ia berfikir bahwasanya dana di dompetnya juga menipis.

“ Udahlah gapapa, mas yang bayarin. Ayo sekarang “

***
            Mereka kini duduk bertiga setelah memesan kopi dan minuman masing-masing. Seketika Jack pun merubah niatnya yang semula hendak mencari jamaah teraweh menjadi ngopi bersama kedua orang yang ditemuinya siang tadi. Jack melihat kedua anak itu dengan pakaian lusuh nampak tak terurus. Perbincangan mereka terfokus pada asal-usul kedua anak tersebut dan kehidupan yang kini mereka jalani.

            Waktu sudah menunjukkan pukul 9. Jack berniat hendak kembali ke kontrakannya dan ingin menyelesaikan tulisannya yang rumpang agar segera rampung. Karena Jack juga memiliki hobi menulis puisi, cerpen, dan terkadang juga essay.

“ Kalian habis ini mau pulang kemana?”

“ Seperti biasa mas, gubuk kami ada di deket Stasiun Kota. Disana banyak yang mendirikan gubuk juga, biasanya pekerjaannya ya seperti kami. Ada yang menjadi pemulung, atau ada juga yang menjadi tukang bersih-bersih di suatu kantor” Ujar si kakak lelaki itu dengan nada datar dan penuh melankolis.

Merasa tak tega, Jack mengeluarkan uang yang tersisa dan diberikannya kepada kedua anak itu. Perjumpaan mereka berakhir pada malam itu dengan membawa kesan haru dalam hati nurani Jack.

            Sepulangnya Jack dari kedai kopi dengan membawa setumpuk haru, ia berniat ingin membicarakan soal problematika yang dialami kedua anak tersebut. Mungkin di dunia ini masih banyak anak-anak yang nasibnya seperti mereka. Apalagi kini ditimpa pandemi yang menjadikan segala golongan menjerit meratapi krisis, bagaimana nasib mereka? Bagaimana nasib ayah dan ibu yang harus mencari sesuap nasi buat anak-anaknya tetapi pekerjaan pun di PHK? Ah, pikiran yang semakin kalut membawa Jack pada sebuah hayalan melankolis dan nelongso terhadap keadaan umat manusia terutama mereka yang harus mencukupi kebutuhan dengan bekerja di jalanan dimana kini hal tersebut tak diperbolehkan oleh situasi. Jika ketahuan maka akan dirazia oleh aparat lalu diberi peringatan agar tak mengulangi kembali. Tepat seperti apa yang dirasakan kedua anak tadi siang yang seorang kakaknya harus dibawa, diintrogasi, diperingati tak boleh lagi mengamen di jalanan dan lebih mirisnya mereka tak diberi apapun jaminan untuk bisa makan pada esok hari.

            Di teras depan kontrakan ditemani salah seorang temannya, Jack meraba malam sambil mengheningka ratap. Salah satu temannya enggan untuk ikut nimbrung sebab masih sibuk membenahi kalimat tunggalnya yang sedikit tanggal. Di pelataran itu nampak hening. Suara jangkrik beradu dengan pemandangan dua ekor kucing yang tengah memadu kasih.

“ Ingat Jack, kamu itu terpelajar!” ujar temannya. “ Seorang terpelajar itu harus adil sejak dalam pikiran apalgi perbuatan” Jack menghayati kata-katanya sembari menyukuri nikmatnya kretek lintingan tembakau Gayo kesukaannya.

“Tapi apa yang harus kuperbuat? Kondisi ku sendiri aja kayak gini. Adil yang seperti apa juga yang harus ada dalam pikiranku?” Jack nampaknya penuh kepasrahan merasai nasib dirinya yang tahun ini tak dapat bertemu keluarga, dana yang kian krisis, ditambah lagi realita pahit yang baru saja ditemuinya.

Teman Jack dengan tabah menjawab “Kehidupan itu harus dilandasi keberanian. Seperti aku dengan berani menghadapi segala penindasan yang telah kualami di masa silam. Mulai dari diasingkan, ditahan, tulisanku dirampas lalu dibakar sia-sia. Bukankah menyakitkan sebenarnya perjalanan hidup ini Jack? Itu semua justru yang membuat aku abadi dan tak mati-mati. Bahkan kini bisa menjadi teman dalam kesendirianmu.” Nampak teman Jack seorang itu telah renta tapi memang kesempatan hidupnya abadi.

            Jack kembali ke kamar setelah mengantarkan temannya tadi kembali ke tempat istirahatnya. Di kamar ia didatangi oleh temannya yang tadi sibuk membenahi kalimat tunggalnya. Ternyata ia kini berada di kamar Jack. Dengan tangkas ia berceloteh:

“ Jack, kita hidup di negeri yang lucu. Segala yang penuh huru-hara jangan sampai kelewat paham agar tak hampa. Masih ingat kan kamu pada Kamus Kecil yang sering kusodorkan padamu? ” Celotehan itu membuat Jack mengernyitkan dahi.

“ Oh iya… aku ingat. Yang kau buat kalo gak salah tahun 2014 silam kan? ”

Hooh Jack. Kata si bung tadi kan kau harus adil sejak dalam pikiran ” Sejenak ia menghela nafas lalu melanjutkan “ Bahwa sumber segala kisah adalah kasih. Berdasarkan ceritamu yang menghempas pikiran serta menyinggung kemanusiaanmu, itu telah membuktikan jika dirimu memiliki rasa kasih terhadap sesama manusia. “

Jack semakin termenung. “Nah, aku semakin teringat dengan Kamus Kecil yang pernah kau sodorkan beberapa waktu lalu mas. Betul begini bukan?

Jack mengingat kata-kata pada Kamus Kecil itu:

Saya dibesarkan oleh bahasa Indonesia yang pintar dan lucu
Walau kadang rumit dan membingungkan
Ia mengajari saya cara mengarang ilmu
Sehingga saya tahu
Bahwa sumber segala kisah adalah kasih
Bahwa ingin berawal dari angan
Bahwa ibu tak pernah kehilangan iba
Bahwa segala yang baik akan berbiak
Bahwa orang ramah tidak mudah marah
Bahwa untuk menjadi gagah kau harus menjadi gigih
Bahwa seorang bintang harus tahan banting
Bahwa orang lebih takut kepada hantu ketimbang kepada Tuhan
Bahwa pemurung tidak pernah merasa gembira
Sedangkan pemulung tidak pelnah merasa gembila
Bahwa orang putus asa suka memanggil asu
Bahwa lidah memang pandai berdalih
Bahwa kelewat paham bisa berakibat hampa
Bahwa amin yang terbuat dari iman menjadikan kau merasa aman
Bahasa Indonesiaku yang gundah
Membawaku ke sebuah paragraf yang merindukan bau tubuhmu
Malam merangkai kita menjadi kalimat majemuk yang hangat
Dimana kau induk kalimat dan aku anak kalimat
Ketika induk kalimat bilang pulang
Anak kalimat paham
Bahwa pulang adalah masuk ke dalam palung
Ruang penuh raung
Segala kenang tertidur di dalam kening
Ketika akhirnya matamu mati
Kita sudah menjadi kalimat tunggal
Yang ingin tinggal
Dan berharap tak ada yang bakal tanggal ”

“ Benar begitu tho mas? ” Ucap Jack setelah mengulang kembali ucapan yang dilontarkan temannya sejak 2014 silam.

“ Sudah tau sendiri kan, kamu harus ngapain? Selamat meunaikan ibadah puisi! “ Ujarnya dengan khas air muka yang penuh humor nan santai.

***
            Malam itu Jack kembali menyepikan diri dengan menghayati kehidupan ini. Mengingat kembali pesan-pesan yang telah disampaikan kedua temannya tadi. Mengais ingatan mengenai betapa memprihatinkan kehidupan mereka yang diluar sana harus bertahan hidup di tengah pademi seperti ini. Betapa susahnya kehidupan temannya yang memberinya pelajaran besar bahwa seorang pelajar harus adil sejak dalam pikiran. Betapa mulia celoteh kawannya pula yang mengingatkan bahwa untuk menjadi gagah kau harus gigih. Ah betapa abadinya nama kalian kelak. Meskipun kini kalian bersamaku dalam wujud tulisan. Tapi rasa terima kasihku tak kunjung padam. Kalian, Bung Pramoedya Ananta Toer dan mas Joko Pinurbo. Terima kasih telah hadir menemani kesendirianku. Terima kasih atas kehadiranmu yang berwujud Tetralogi Pulau Buru dan berwujud Kamus Kecil lengkap dengan Perjamuan Khong Guan

            Semakin kesini aku semakin dituntun menuju kesadaran perihal kemanusiaan. Tak perlu bertumpuk teori jika rasa peduli tak ada arti. Tak perlu ratusan puisi jika kemanusiaan tak dihayati. Silahkan beristirahat di rak buku yang menjadi tempat istirahat kalian, Mas Jokpin dan Bung Pram. Meskipun raga Mas Jokpin telah menua, aku yakin karyamu yang setia menemaniku akan abadi sepanjang masa. Begitu pula Bung Pram, meski jasadmu telah menyatu dengan bumi, kemanusiaan dan kesusastraanmu akan senantiasa menemaniku serta seluruh anak semua bangsa hingga ajal tiba nanti.

            Jack telah merasakan serangan kantuk dimatanya. Segera ia beristirahat untuk bangun di esok hari dengan kemanusiaan yang akan ia pelajari dan terus ia selami. Begitu pula ia mendidik dirinya. Jack selalu ingat pesan adik Bung Pram “ Didiklah dirimu menjadi manusia, jangan menjadi serigala. “ Mulai detik itu dan seterusnya sampai wabah pandemi ini berakhir, Jack menghadapi kesendiriannya dengan ditemani orang-orang hebat yang menjelma pada karyanya. Dia selalu belajar untuk menjadi manusia seutuhnya dan terus menebar kebaikan selagi apapun yang ia masih bisa lakukan meski hanya dalam perasaan dan pemikiran.


Yogyakarta, 1 Mei 2020  


*Sebuah apresiasi dari saya pribadi terhadap karya dari Pramoedya Ananta Toer dan Joko Pinurbo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Covid-19 yang Membuka Mata Hati

Munajat Seorang Peronda (2)

“ Sunyi yang Kau Kirim Malam itu “