Mahasiswa Kupu-Kupu juga Aset Bangsa
oleh : Ainurzq
Bagi mahasiswa pasti sudah tak
asing lagi dengan istilah kupu-kupu dan kura-kura bukan? Apalagi saat awal kali
kita masuk kuliah lalu mengikuti kegiatan ospek. Pasti senior selalu menegaskan
jangan menjadi mahasiswa kupu-kupu. Mau jadi apa bangsa ini kalo kalian jadi
mahasiswa kupu-kupu?
Pasti sudah tergambar dengan
jelas jika mahasiswa kupu-kupu orangnya nampak cupu, kuper, dan nggak ideal
sama sekali. Sedangkan mahasiswa kura-kura sudah pasti keren, jago ber-retorika
serta cerdas dalam mengatur waktu. Seringkali anggapan terhadap mahasiswa
kupu-kupu pastilah seorang yang apatis.
Perlu kita ketahui, bahwasanya
sikap apatis itu bukan datang begitu saja seperti mendapatkan wahyu. Apatis
pasti memiliki penyebab. Entah itu datangnya dari lingkungannya maupun dari
tekanan emosional. Menurut para ahli, berikut penyebab seseorang menjadi
apatis. Pertama, tidak percaya lagi pada orang lain;
hal tersebut terjadi disebabkan seseorang itu terlalu sering dikecewakan serta
merasa dikhianati oleh orang yang disayangi atau juga orang yang dipercaya,
kedua, tekanan emosional; hal tersebut dapat disebabkan disebabkan seseorang
menerima perilaku yang tidak menyenangkan dari orang lain, misalnya dirundung
terus menerus, ketiga, kekurangan fisik; tidak jarang seseorang menjadi apatis
disebabkan kehilangan rasa percaya diri. Misalnya kekurangan fisiknya menjadi
cibiran orang lain di lingkungan hidupnya serta membuatnya kehilangan rasa
percaya diri, dan
yang terakhir, kurang kasih sayang; orang yang kurang kasih sayang biasanya
dapat atau bisa menyebabkan seseorang menjadi apatis.
Dari beberapa penyebab diatas,
mustahil jika sikap apatis berasal bawaan dari lahir. Mungkin mahasiswa
kupu-kupu yang disebut apatis pastinya tidak terima jika dikatakan ”Mahasiswa
apatis tak berguna untuk kemajuan bangsa” atau “Mahasiswa kok kupu-kupu,
dasar apatis!” pasalnya kata-kata itu sering dilontarkan oleh mahasiswa
organisatoris yang memandang mahasiswa kupu-kupu sebelah mata. Ada lagi yang
mengatakan bahwa “Mahasiswa apatis=sampah”. Hal semacam itu apakah etis
bagi seorang organisatoris yang notabenenya berorganisasi untuk berproses guna
kemajuan bangsa, tetapi malah mendiskriminasikan sesama mahasiswa.
Kembali lagi pada mahasiswa kupu-kupu. Tak
selamanya mahasiswa yang setelah selesai kuliah lalu pulang itu tidak peduli
terhadap organisasi kampus atau terhadap UKM yang ada. Tetapi bisa jadi
mahasiswa tersebut memiliki kesibukan lain seperti bekerja guna menghidupi
kehidupan sehari-harinya. Mahasiswa yang sambil bekerja itu sangat perlu di
apresiasi. Karena ia tak banyak mengobrolkan teori ini itu dan tak banyak
berkoar-koar diatas mimbar tetapi langsung memanfaatkan peluang ekonomi untuk
menopang hidupnya serta masa depannya kelak jika sudah berkeluarga. Selain
bekerja, adapula mahasiswa type kupu-kupu yang memiliki hobby menulis, seperti
artikel, sastra, bahkan tulisan ilmiah yang tulisannya dapat
dipertanggungjawabkan serta dapat memberi kontribusi untuk sosial masyarakat.
Dalam kehidupan mahasiswa, tak selamanya
pula mahasiswa kura-kura itu ideal. Faktanya sebagian dari mereka juga banyak
yang berkoar diatas mimbar tentang keadilan dan kekerasan seksual tetapi penis
dibawahnya membual. Banyak pula yang dengan gagah satu tangannya terkepal
tetapi tangan yang satu sodorkan proposal. Memang betul kata Albert Camus jika
hidup ini penuh dengan ketidakpastian. Mahasiswa kura-kura tak selalu ideal dan
mahasiswa kupu-kupu tak selalu gagal. Justru kenyataan pada saat ini mahasiswa
kura-kura mengikuti organisasi hanya untuk mencari kekuasaan serta kedudukan.
Hal seperti itulah yang menjadikan politik di Indonesia tak sehat. Sejak di
bangku perkuliahan saja banyak yang salah kaprah dalam berorganisasi. Pemilihan
ketua BEM pada suatu kampus juga tak luput dari permainan dibaliknya.
Mengapa
saya menuliskan bahwa mahasiswa kupu-kupu juga aset bangsa? Yang pertama,
adanya mahasiswa kupu-kupu menjadikan organisatoris seperti BEM kampus lebih
berguna. Tanpa adanya mahasiswa kupu-kupu, untuk apa adanya BEM? Siapa pula
yang diatur mereka kalau bukan mahasiswa kupu-kupu diantaranya. Kedua,
mahasiswa kupu-kupu yang bekerja bisa membantu negara dalam hal perpajakan.
Ketiga, sebagian mahasiswa memilih kupu-kupu karena ia ingin focus pada hobby
nya seperti menulis maupun berkarya. Dari karya-karyanya juga yang bisa membawa
bangsa lebih berkemajuan karena sebagai bukti bahwasanya Indonesia masih banyak
memiliki generasi yang produktif, kreatif, serta menghasilkan suatu karya yang
bisa mengangkat nama baik bangsa.
Jadi,
saat ini perbedaan antara mahasiswa kupu-kupu dengan mahasiswa kura-kura
terlalu kuno untuk diperdebatkan. Semua itu fungsional dan saling melengkapi.
Setiap mahasiswa juga memiliki soft skill yang berbeda. Perbedaan itu
bebas mereka kembangkan melalui jalan mereka sendiri. Jika ada mahasiswa
aktivis atau kura-kura yang menilai bahwa mahasiswa kupu-kupu itu tidak
berguna, apatis, atau apapun itu, dapat dipastikan bahwa si aktivis itu memang belum
benar-benar tulus dalam memberikan kontribusi terhadap organisasinya maupun bangsa
Indonesia. WS Rendra pernah mengatakan bahwa kesadaran adalah matahari. Marilah
tingkatkan kesadaran bahwa setiap orang memiliki fungsi dan peran terhadap
kehidupannya masing-masing. Apa gunanya menggembor-gemborkan perihal keadilan,
pendidikan, dan kritikan terhadap bangs ajika terhadap sesama mahasiswa masih
ada sekat.

Komentar
Posting Komentar